Kami telah banyak menyaksikan wajah-wajah orang mati, dalam mimpi, dalam ingatan, dalam jam dan menit-menit yang telah lama terlupakan. Pada malam-malam lembap Desember yang menyedihkan, dalam kefanaan semesta seisinya, dalam kelembutan cinta kasih yang berdiam di antara puing dan reruntuhan, dalam tubuh-tubuh serta ars moriendi yang mustahil terekam dalam lembar-lembar kertas. Satu demi satu, berbondong-bondong mereka datang dalam kepura-puraan demi semua yang hidup meski tak lagi mengenal cinta, tak tahu pasti apa itu kehidupan, tak merasakan hangat aliran darah dalam nadi mereka yang kini sunyi. Manakala kematian tak lagi menjadi bagian dari kehidupan, saat yang bertahan hanya wacana dan imajinasi—saat ini, ketika kematian begitu jauh, tak berwujud tanpa ada satu pun kosa kata yang dapat menggambarkan segala sesuatu tentangnya. Kami telah banyak melihat orang mati, pada wajah mereka kami melihat alam semesta seisinya. Dunia purba, sebelum mamento mori, sebelum nihilisme yang mencengkeram eksistensi kita, sebelum segala yang aseptik, sebelum kesepian kita yang abadi dalam rengkuhan waktu. seluruh dunia, pada wajah-wajah orang mati, kebohongan yang diucap seseorang di ambang tidur dan kesadaran mereka, sebuah modalitas ekspresi, kaku dan penuh dengan kebohongan. Wajah-wajah orang mati menyimpan kebenaran yang tak terjangkau, melampui koherensi maupun kronologi, melampaui konsistensi kehidupan. kebenaran yang mustahil diketahui, dalam obor yang tergenggam pada tangan-tangan mereka yang dikutuk untuk membakar malam-malam gelap sesudah kematian mereka, pencarian abadi atas segala sesuatu yang telah mereka temukan sebelumnya, segala sesuatu yang telah mereka ketahui, semua hal yang mereka bawa bersama tubuh mereka, dalam wajah-wajah mereka yang telah mati, di antara keriput dan kerut-kerut jasad mereka yang membusuk perlahan—dalam ketiadaan gerak, dalam ketidakhadiran cahaya, dalam warna-warna baru yang menyerang jaringan mereka bagai dorongan nafsu yang membanjiri panca indera, dalam pucatnya bibir-bibir yang takkan lagi merasakan sentuhan, dalam pembuluh darah yang dingin mengering, waktu tak lagi hadir dan menghapus satu kenangan penting yang akan mereka lupakan untuk selamanya: kematian.