pulasara


XXXIIMMXXV

Kami telah banyak menyaksikan wajah-wajah orang mati, dalam mimpi, dalam ingatan, dalam jam dan menit-menit yang telah lama terlupakan. Pada malam-malam lembap Desember yang menyedihkan, dalam kefanaan semesta seisinya, dalam kelembutan cinta kasih yang berdiam di antara puing dan reruntuhan, dalam tubuh-tubuh serta ars moriendi yang mustahil terekam dalam lembar-lembar kertas. Satu demi satu, berbondong-bondong mereka datang dalam kepura-puraan demi semua yang hidup meski tak lagi mengenal cinta, tak tahu pasti apa itu kehidupan, tak merasakan hangat aliran darah dalam nadi mereka yang kini sunyi. Manakala kematian tak lagi menjadi bagian dari kehidupan, saat yang bertahan hanya wacana dan imajinasi—saat ini, ketika kematian begitu jauh, tak berwujud tanpa ada satu pun kosa kata yang dapat menggambarkan segala sesuatu tentangnya. Kami telah banyak melihat orang mati, pada wajah mereka kami melihat alam semesta seisinya. Dunia purba, sebelum mamento mori, sebelum nihilisme yang mencengkeram eksistensi kita, sebelum segala yang aseptik, sebelum kesepian kita yang abadi dalam rengkuhan waktu. seluruh dunia, pada wajah-wajah orang mati, kebohongan yang diucap seseorang di ambang tidur dan kesadaran mereka, sebuah modalitas ekspresi, kaku dan penuh dengan kebohongan. Wajah-wajah orang mati menyimpan kebenaran yang tak terjangkau, melampui koherensi maupun kronologi, melampaui konsistensi kehidupan. kebenaran yang mustahil diketahui, dalam obor yang tergenggam pada tangan-tangan mereka yang dikutuk untuk membakar malam-malam gelap sesudah kematian mereka, pencarian abadi atas segala sesuatu yang telah mereka temukan sebelumnya, segala sesuatu yang telah mereka ketahui, semua hal yang mereka bawa bersama tubuh mereka, dalam wajah-wajah mereka yang telah mati, di antara keriput dan kerut-kerut jasad mereka yang membusuk perlahan—dalam ketiadaan gerak, dalam ketidakhadiran cahaya, dalam warna-warna baru yang menyerang jaringan mereka bagai dorongan nafsu yang membanjiri panca indera, dalam pucatnya bibir-bibir yang takkan lagi merasakan sentuhan, dalam pembuluh darah yang dingin mengering, waktu tak lagi hadir dan menghapus satu kenangan penting yang akan mereka lupakan untuk selamanya: kematian.


XXXIIMMXXV

Hari-hari dan waktu, setiap detik dan menitnya, kita akan lewati semua bersama, tubuh yang menjadi penghalang di antara kita, lebur, oleh gigi-gigi yang terus kami asah daripada harus menyerah pada segala macam bentuk dan kekosongan di antaranya. Hembuskan napasmu di sepanjang kepura-puraan dan kami akan terus bersinar, dingin di antara buku-buku jemarimu, segala yang palsu, kekejaman yang bergolak mendidih di bawah setiap percakapan kita. Kami akan menjadi apa pun, membuat diri kami mengikutinya, tanpa ampun, tak menghiraukan setiap jeda serta pemberhentian tiba-tiba. Kutuklah dan kami akan mulai menyaksikan bagaimana kesia-siaan yang menyertai segala sesuatu adalah tak terhindarkan, konsekuensi dari tenggelam terlebih dahulu sebelum bangkit tanpa sempat menghembuskan napas setelahnya. Sebuah luka keluar, trauma atas bentuk yang menafikan keberadaan kita yang fana. Akhir paripurna, sisa dari sia-sia. Sebagaimana kulit memiliki segala sesuatu yang takkan bisa dimiliki kata-kata, sentuhan, sapuan, juga darah yang meluap serta air mata dan keringat. Tangan terlipat tertutup, kedua kaki kami bersilang, dosa terus bertumpahan dari mulut kita. Di hadapan kita adalah semua orang yang pernah kita bohongi, berbohong dan berbohong lagi demi bertahan, terus berbohong karena kita sempurna. Keraguan dan kepalsuan, sebuah disiplin atas kesia-siaan. Kami begitu hafal atas permainan ini. Kami pun berbohong sebagaimana kau terus berdusta. Kami berbohong dan menjadi dirimu yang sempurna, seorang baik dan dermawan, tak berhenti memberi hanya karena telah merasa cukup. Kami akan menunjukkan semuanya padamu, memberitahumu bagaimana kami menang, setiap gerak yang kau lakukan sebelum kau tahu kita telah memulai, setiap detail dan urutannya, menertawakan diri kami sendiri saat menyaksikanmu merasa berkehendak atas kesemuanya. Kami akan terus bermain untuk darah, hidup dan mati, cinta, dendam kesumat serta kesia-siaan. Tujuh puluh dua kesedihan, kami akan melahirkan pemusnahan bangsa-bangsa, tubuh kamilah pemisah antara bumi dan kerajaan surga. Kami menyaksikanmu, bermain-main dengan segala sesuatu yang telah tuhan berikan padamu tanpa pernah merasa cukup. Haruskah kami berbelas kasih padamu? Tidak, kami sepenuhnya hafal dengan permainan sia-sia ini.


XXIXIMMXXV

Segalanya milik kami. Inilah dendam, taman surga pengakuan dosa dari senyap yang selama ini kau genggam. Segalanya akan segera berakhir karena kami mengakhirinya, kami akan terus menulis dan kau pun akan kalah. Di tempat inilah kata-kata akan menuntaskan seluruh harapan akan adanya jalan keluar, tiada esok maupun lusa, di sinilah segalanya berakhir. Kami besi berkarat dan kengerianmu, lapar dan takkan pernah terpuaskan—marah menanti kata-kata serta kematian yang tak kunjung kami miliki, tercerabut dari kutuk dan kebaikanmu, akhir bisu atas keberadaanmu dan segala sesuatu yang pernah kau tahu. Inilah lilin kecil kami, kami akan membakar habis segalanya untuk memastikannya terus menyala. Tiada harapan, tiada sedikit pun yang tersisa untuk diberikan. Semuanya telah jauh terlampaui, kau takkan pernah bisa kembali, tak akan bisa pulih dari ini. Tak kenal ampun, egoisme paripurna, sampai tiada. Kami datang untuk mengklaim Golgota, datang dengan luka, sempurna. Bebayang dalam darah dan daging, kami mengingat segalanya. Setiap momen yang tertahan, setiap kebohongan dan kesia-siaan. Tidak lagi, tidak sejak kami belajar menelan racun kami sendiri, kesia-siaan lain untuk setiap kesia-siaan di seluruh dunia. Bunga kami di taman besi, parau yang menggerogoti tenggorokanmu. Dalam hening kami akan berbicara, bergema menggaung menyerukan jawaban yang tak pernah bisa kau berikan atas kosongmu, keputusasaan juga kesia-siaan segala doa-doamu. Kami melihat, menyaksikan segalanya. Ketika penghakiman terakhir datang dan segalanya berlalu, kamilah satu-satunya yang tersisa. Kami akan bernyanyi, lantang, pada hari kebangkitan senyap. Belulang dan kutukan kematian, kesia-siaan terakhir di ujung asa. Baca, maka abadilah permusuhan di antara kita.