pulasara


XIVIIMMXXV

Kami mati, tapi tak terdiam. Tiada cahaya di sini, kota ini yang tak berujung. Kita tertawa dan menghilang, segalanya dan kemudian. Belantara beton untuk segala yang tak berwujud, tertumpah di jalanan, rahasia-rahasia, jeda sebelum dan sesudahnya. Keabadian yang hilang keseimbangan, dari yang diketahui dan yang menghilang, melupakan perbedaan di antara keduanya. Hujan bersama kita, gedung-gedung, darah dan daging sebagaimana lagu-lagu pengantar tidur yang akan terus kau ingat. Sebagian dari kita, semua yang tersisa dari refleksi malam-malam sebelumnya, di sini, di kota ini. Tiada tempat untuk pergi dan kita harus terus bergerak, melewati orang-orang asing, bebisik gerak dan diam yang tak diharapkan. Malam menghisap sisa hujan dari kulit kita, langit lenyap digantikan sesuatu yang jauh lebih buruk. Sesuatu yang tak kenal ampun, derita lahir tanpa kematian. Kota menenggelamkan segalanya, tepinya bergeser kemudian sunyi. Kami membuat katedral belulang, membakar diri dan berkorban, menggorok leher pagi demi menjaga kegelapan. Kota ini suci, kami menggerogotinya, menelan tiap serpihan debu di permukaan lidah kami. Tubuh yang tak berkesatuan, sudut-sudut jalanan mengulurkan tangannya menyambut perjalanan kami. Berburu, menggeluti aspal, jatuh cinta dengan lampu-lampu jalan yang mati. Bintang-bintang berwarna jingga natrium, udara menebal dan menipis, terlalu banyak dan tak pernah cukup. Kisah-kisah terurai menjadi benang dalam genggaman tangan kami lalu menghilang begitu saja sebelum kami sempat melupakannya. Kami kehilangan begitu banyak, lebih banyak setiap menitnya, bergerak dan menambah kecepatan. Laju menggantikan jarak, kota memanfaatkan kita, cakrawalanya adalah ilusi, kepura-puraan dan ketiadaan jalan keluar, surat cinta yang menghancurkan dirinya sendiri saat kita semua menari dan menari sampai setiap gedung tertekuk mencium kekosongan, ceruk yang kami simpan untuk mengenang kisah kita. Kami mengangkat kedua tangan kami menuju hampa dan menyebutnya tuhan. Kami menumpahkan hidup di selokan, darah para martir, membalikkan gedung-gedung menciptakan frekuensi kehancuran. Tak ada lagi, tiada tempat selain kota ini.


VIIIIMMXXV

Perlahan, dengan lembut, perlahan. Darah, daging, dan kulit kami hanyalah debu, di sini. Terjatuh, kenangan indah yang akan selalu kami ingat dari bertahun lalu. Kenangan yang sama sekali berbeda dengan dahulu, sore-sore cerah yang mati naas pada pukul empat pagi, asap di bibir kami, debu—kami menghirup habis semuanya. Diterpa cahaya, bayang-bayang kami menipis menjadi roh. Hanya ada kosong selama kami diam, hidup sepenuhnya bergantung pada permainan yang tak mungkin dimenangkan. Tiada orang suci maupun pendosa, hanya penyakit, tak ada kalah atau menang, hanya ada saksi-saksi yang tak berdaya. Semuanya berlalu, hanya aroma yang bertahan saat kami tiada. Sebuah momen yang tak mungkin tergambarkan, tak bisa kami ungkapkan, kelopak bunga dan semuanya, ketenangan yang takkan bisa kami capai sendiri, seteguk ratusan tahun serta detik-detik yang menyelinap di antara lidah dan bola mata, sunyi sekaligus indah. Kami masih mencoba memahami kesemuanya, terombang-ambing di antara teror dan ketiadaan kemungkinan. Seorang martir, sebuah api unggun yang hidup, kami menyanyikan segalanya, berpura-pura bahwa pagi akan datang dan kami akan terus hidup selamanya, jam-jam terbalik, suka cita dalam kepanikan. Dengan lembut, perlahan, kata-kata itu adalah kami dan tak ada yang lain. Kamilah uap, menggigil tanpa suara. Turun dengan lambat tanpa bisa berhenti, percikan yang terlahir dari sisa-sisa. Kata-kata itu terasa begitu familiar arena kami telah mengatakan semuanya sebelumnya, tentang dunia yang telah lama berlalu, pergeseran kecil serta hembusan napas yang mengaduk debu menjadi sesuatu yang menyerupai diri kami, transparan dan berbahaya, kami menyelinap masuk, diundang tanpa diinginkan, tubuh kami adalah cermin yang menghancurkan semua bukti. Tiada orang suci maupun pendosa, hanya penyakit, tak ada kalah ataupun menang, hanya ada saksi-saksi yang tak berdaya.